Beranda Profil Sejarah Pendidikan Budaya Kesehatan Kegiatan Demografi
Sistem Informasi Resmi

Data & Informasi
Suku Anak Dalam
Rantau Keloyang

Portal informasi resmi mengenai demografi, sosial budaya, dan status kesehatan komunitas Suku Anak Dalam (SAD) di wilayah Rantau Keloyang, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi.

40
Total Penduduk
34
Laki-laki
/
6
Perempuan
6
Program Pendidikan
0
Data Kesehatan
Profil

Mengenal Suku Anak Dalam

Komunitas SAD yang mendiami hutan-hutan Kabupaten Bungo dengan budaya dan kearifan lokal yang unik.

Profil Suku Anak Dalam

Suku Anak Dalam, atau disebut juga Orang Rimba, adalah kelompok masyarakat adat yang mendiami wilayah Provinsi Jambi. Pada awalnya mereka hidup nomaden di dalam hutan dengan cara berburu, meramu, dan berpindah-pindah. Seiring waktu, sebagian Suku Anak Dalam mulai menetap di pemukiman yang difasilitasi pemerintah. Salah satu pemukiman tersebut berada di Rantau Keloyang, Kabupaten Bungo, Jambi.
Di Rantau Keloyang, Suku Anak Dalam mulai beradaptasi dengan kehidupan menetap. Dari gambar terlihat mereka tinggal di rumah sederhana berbahan bambu dan beratap terpal di area perkebunan kelapa sawit. Mata pencaharian mereka mulai bergeser dari meramu ke berkebun, bertani, dan beternak. Beberapa juga bekerja sebagai buruh di kebun sawit sebagai sumber penghasilan utama keluarga.
Pada gambar juga tampak adanya interaksi dengan petugas pemerintah dan pendamping. Hal ini menunjukkan adanya program pemberdayaan dari pemerintah dan pendamping sosial. Program tersebut meliputi bidang kesehatan, pendidikan anak, dan pelatihan keterampilan agar Suku Anak Dalam di Rantau Keloyang dapat hidup mandiri. Anak-anak mulai dikenalkan dengan pendidikan formal, sementara orang dewasa dibina dalam mengelola kebun dan usaha kecil.
Meskipun sudah tinggal menetap, Suku Anak Dalam di Rantau Keloyang tetap menjaga nilai kebersamaan, gotong royong, dan identitas budayanya. Pemukiman Rantau Keloyang menjadi contoh bagaimana Suku Anak Dalam beradaptasi dengan perubahan zaman, dari kehidupan di hutan menuju kehidupan menetap tanpa meninggalkan jati dirinya.

Rantau Keloyang Kab. Bungo, Jambi Komunitas Nomaden
Sejarah

Sejarah & Asal-Usul

Perjalanan panjang komunitas Suku Anak Dalam yang penuh kearifan dan keteguhan dalam menjaga alam.

batu ngambang

dwfekbjbjhtesssss

Lihat Sejarah Selengkapnya
Pendidikan

Pendidikan Suku Anak Dalam

Program pembinaan belajar, sekolah alam, dan literasi anak-anak komunitas SAD di Rantau Keloyang.

Program Edukasi 2 Foto

Pendidikan untuk Suku Anak Dalam Bersama Pundi Sumatera

Dokumentasi Pendidikan untuk Suku Anak Dalam  Bersama Pundi Sumatera
Dokumentasi Pendidikan untuk Suku Anak Dalam  Bersama Pundi Sumatera

Pundi Sumatera mendampingi anak-anak Suku Anak Dalam di Jambi untuk mendapatkan akses pendidikan dasar.

Kegiatan belajar mengajar dilakukan langsung di komunitas, di bawah pohon dan di atas tikar, dengan metode sederhana. Para pendamping dari Pundi Sumatera hadir rutin untuk mengajar membaca, menulis, berhitung, dan mendampingi anak-anak agar tetap bisa belajar tanpa harus meninggalkan lingkungan dan budaya mereka.

Baca Selengkapnya
Program Edukasi 2 Foto

Briptu Seri Santoso - Polisi Rimba

Dokumentasi Briptu Seri Santoso - Polisi Rimba
Dokumentasi Briptu Seri Santoso - Polisi Rimba

Briptu Seri Santoso adalah anggota Polri yang bertugas sebagai "Polisi Rimba" dalam program "Mengabdi pada Pelosok” pada program belajar mengajar Polda Jambi di wilayah komunitas Suku Anak Dalam.
Bagi anak-anak, beliau bukan hanya aparat. Di "kelas tanpa dinding" di atas tikar, Briptu Seri Santoso hadir sebagai guru, kakak, dan teman belajar. Melalui program ini, beliau secara rutin mendampingi anak-anak untuk mengenal huruf, membaca, menulis, dan berhitung.
Selain literasi dasar, beliau juga menanamkan nilai disiplin, karakter, dan kebangsaan. Dengan semangat pengabdian, kehadiran Briptu Seri Santoso memastikan anak-anak Suku Anak Dalam merasa aman, dihargai, dan memiliki kesempatan yang sama untuk bermimpi dan belajar.

Baca Selengkapnya
Program Edukasi 3 Foto

Dukungan Pemerintah Daerah untuk Pendidikan Suku Anak Dalam Kunjungan Ketua TP PKK Kabupaten Bungo

Dokumentasi Dukungan Pemerintah Daerah untuk Pendidikan Suku Anak Dalam   Kunjungan Ketua TP PKK Kabupaten Bungo
Dokumentasi Dukungan Pemerintah Daerah untuk Pendidikan Suku Anak Dalam   Kunjungan Ketua TP PKK Kabupaten Bungo
Dokumentasi Dukungan Pemerintah Daerah untuk Pendidikan Suku Anak Dalam   Kunjungan Ketua TP PKK Kabupaten Bungo

Pendidikan bagi anak-anak Suku Anak Dalam di Kabupaten Bungo terus berjalan berkat program Pundi Sumatera. Program ini fokus pada pendampingan literasi dasar, pendidikan karakter, dan pemberdayaan masyarakat di wilayah adat terpencil.

Dukungan terhadap program ini turut hadir dari Pemerintah Kabupaten Bungo. Ibu Hj. Elza Kurniawati Dedy, Ketua TP PKK Kabupaten Bungo sekaligus Bunda PAUD Kabupaten Bungo, melakukan kunjungan langsung untuk memantau proses belajar mengajar anak-anak Suku Anak Dalam.

Dalam kunjungan tersebut, Ibu Elza berinteraksi langsung dengan anak-anak, para pendamping, dan masyarakat. Beliau memberikan apresiasi kepada seluruh tim Pundi Sumatera yang telah setia mendampingi proses belajar di lapangan.

Kehadiran Ibu Elza menjadi bukti nyata komitmen Pemerintah Daerah untuk memastikan setiap anak di Bungo, termasuk di komunitas adat, mendapatkan akses pendidikan dan perhatian yang sama.

Baca Selengkapnya
Program Edukasi 1 Foto

Sekolah Alam Siginjai Polda Jambi

Dokumentasi Sekolah Alam Siginjai Polda Jambi

Sekolah Alam Siginjai merupakan program pendidikan dari Polda Jambi yang berlokasi di lingkungan alam terbuka. Selain memperkenalkan proses belajar mengajar dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung, sekolah ini juga memiliki kekhasan tersendiri.

Program ini juga mengajarkan tata cara berkendara yang baik dan benar kepada peserta didik dan masyarakat sekitar. Melalui edukasi ini, anak-anak dan warga dikenalkan pentingnya mematuhi tata tertib lalu lintas, menggunakan perlengkapan keselamatan, serta menjadi pelopor keselamatan di jalan raya sejak dini.

Dengan pendekatan alam dan pembinaan karakter, Sekolah Alam Siginjai Polda Jambi hadir untuk mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga disiplin, bertanggung jawab, dan sadar hukum.

Baca Selengkapnya
Program Edukasi 2 Foto

Ghumah Belajo Bhetilek Elmu Rumah Belajar dan Perpustakaan Menimba Ilmu)

Dokumentasi Ghumah Belajo Bhetilek Elmu   Rumah Belajar dan Perpustakaan Menimba Ilmu)
Dokumentasi Ghumah Belajo Bhetilek Elmu   Rumah Belajar dan Perpustakaan Menimba Ilmu)

Ghumah Belajo Bhetilek Elmu adalah salah satu program unggulan dari Pundi Sumatera di bidang pendidikan dan literasi untuk komunitas Suku Anak Dalam.

Terletak di Pemukiman SAD, Desa Dwi Karya Bakti, Kecamatan Pelepat, Kabupaten Bungo, Jambi, ghumah ini berfungsi ganda sebagai tempat belajar mengajar dan perpustakaan komunitas bagi anak-anak.

Sebagai tempat belajar, di sini anak-anak Suku Anak Dalam mengikuti pendampingan rutin untuk belajar membaca, menulis, dan berhitung.
Sebagai perpustakaan, ghumah ini menyediakan berbagai buku bacaan agar anak-anak memiliki ruang untuk mengenal dunia, menumbuhkan minat baca, dan gemar belajar secara mandiri.

Lebih dari sekadar bangunan, Ghumah Belajo Bhetilek Elmu menjadi ruang aman untuk menumbuhkan semangat literasi, rasa ingin tahu, dan mimpi anak-anak di pelosok.

Melalui program ini, Pundi Sumatera berkomitmen menghadirkan akses pendidikan dasar dan perpustakaan yang layak, agar tidak ada anak yang tertinggal belajar hanya karena tinggal di wilayah adat terpencil.

Baca Selengkapnya
Program Edukasi 3 Foto

Sekolah Perempuan SAD

Dokumentasi Sekolah Perempuan SAD
Dokumentasi Sekolah Perempuan SAD
Dokumentasi Sekolah Perempuan SAD

Dalam komunitas SAD, perempuan memiliki peran penting dalam mengatur kebutuhan rumah tangga, mendukung pendidikan anak, serta mengambil berbagai keputusan yang memengaruhi kesejahteraan keluarga. Kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama bagi perempuan SAD untuk mendiskusikan berbagai persoalan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Peserta juga diajak mendiskusikan berbagai tantangan yang dihadapi anak perempuan, termasuk beban kerja domestik, risiko putus sekolah, hingga praktik pernikahan usia anak yang masih ditemukan di beberapa komunitas.
Selain membahas pengelolaan keuangan, kegiatan ini juga mendorong peserta untuk melihat berbagai peluang investasi produktif yang sesuai dengan konteks komunitas, seperti pengembangan usaha keluarga, kepemilikan lahan produktif, serta penanaman tanaman jangka panjang yang dapat memberikan manfaat ekonomi berkelanjutan. Diskusi diarahkan agar peserta memahami bahwa setiap keputusan ekonomi yang diambil hari ini akan memengaruhi kesempatan dan masa depan generasi berikutnya.
Sekolah Perempuan juga menjadi ruang untuk memperkuat kesadaran mengenai pentingnya kesempatan yang setara bagi anak perempuan dan laki-laki dalam memperoleh pendidikan serta mengembangkan potensi diri. Melalui refleksi bersama, peserta menyampaikan harapan dan cita-cita mereka terhadap anak-anak, sekaligus menyusun komitmen sederhana yang dapat dilakukan untuk mendukung pendidikan dan kesejahteraan keluarga.

Baca Selengkapnya
Sosial Budaya

Kehidupan & Budaya

Tradisi, sistem kepercayaan, dan pola kehidupan nomaden yang menjadi ciri khas Suku Anak Dalam.

Ngakop Ikan dalam Kebiasaan Suku Anak Dalam

Ngakop Ikan dalam Kebiasaan Suku Anak Dalam
Ngakop Ikan dalam Kebiasaan Suku Anak Dalam

Bagi Suku Anak Dalam atau Orang Rimba yang hidup di pedalaman hutan Jambi, ngakop ikan bukan sekadar cara mencari makan, tapi juga bagian dari kebiasaan dan kearifan hidup berdampingan dengan alam. Ngakop adalah teknik menangkap ikan dengan tangan kosong atau menggunakan alat sederhana seperti bubu dan jala kecil di sungai-sungai jernih di tengah hutan. Biasanya dilakukan oleh laki-laki dan perempuan bersama-sama saat air sungai sedang surut. Mereka berjalan menyusuri aliran sungai, mengintip celah-celah batu dan akar pohon tempat ikan bersembunyi, lalu menangkapnya dengan cekatan. Ikan hasil ngakop seperti baung, seluang, dan lele hutan kemudian dimasak langsung di atas bara api dengan dibungkus daun. Bagi Suku Anak Dalam, kegiatan ini mengajarkan kesabaran, kebersamaan, dan rasa syukur karena mereka hanya mengambil secukupnya sesuai kebutuhan, tanpa merusak ekosistem sungai. Ngakop juga menjadi momen berkumpul dan mewariskan pengetahuan leluhur dari orang tua kepada anak-anak tentang cara hidup selaras dengan hutan.

Bercocok Tanam Suku Anak Dalam di Lahan Terbuka

Bercocok Tanam Suku Anak Dalam di Lahan Terbuka

Terlihat anggota Suku Anak Dalam sedang bekerja bersama di sebuah lahan yang baru dibuka di tepi hutan. Tanahnya tampak kering, dengan sisa-sisa batang pohon yang terbakar. Mereka membungkuk menanam atau membersihkan lahan dengan tangan kosong dan alat sederhana. Ada ibu-ibu yang mengenakan kain sarung panjang, dan bapak-bapak serta anak muda yang ikut membantu.
Bagi Suku Anak Dalam, membuka lahan dan bercocok tanam adalah salah satu cara beradaptasi ketika tidak lagi sepenuhnya bergantung pada hutan. Meski sebagian besar hidup mereka selaras dengan alam sebagai peramu dan pemburu, ketika kondisi berubah mereka juga belajar menanam untuk memenuhi kebutuhan pangan.
Kegiatan ini dilakukan bersama-sama. Sambil bekerja, orang tua mengajarkan anak-anak cara mengolah tanah, memilih benih, dan menjaga agar tanah tidak rusak. Mereka tetap menanam secukupnya, tidak berlebihan, karena nilai utama mereka adalah menghormati alam dan hanya mengambil sesuai kebutuhan.
Lahan ini bukan hanya tempat menanam makanan, tapi juga ruang kebersamaan. Di tengah debu dan panas, terlihat gotong royong dan tawa kecil yang membuat pekerjaan berat jadi ringan. Bagi Suku Anak Dalam, di mana pun mereka berada, kerja bersama adalah cara menjaga kekeluargaan dan keberlangsungan hidup.

Budidaya Ikan

Budidaya Ikan

Di bawah atap sederhana dari daun rumbia, terlihat beberapa perempuan Suku Anak Dalam sedang melihat kolam ikan yang dibuat dari terpal. Kolam itu ditaruh di atas rangka kayu dan bambu. Mereka membungkuk, memperhatikan air dan ikan di dalamnya dengan teliti.
Ini adalah bentuk adaptasi Suku Anak Dalam di area perumahan. Selain ⁠ ngakop ⁠ di sungai, mereka juga mulai belajar budidaya ikan agar kebutuhan lauk sehari-hari tetap tercukupi. Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh ibu-ibu dan anak muda. Mereka belajar memberi makan, menjaga kebersihan air, dan merawat ikan bersama-sama.
Bagi mereka, kolam ini bukan sekadar tempat memelihara ikan. Ini adalah ruang belajar baru. Dari sini anak-anak diajarkan tentang tanggung jawab, kesabaran, dan cara hidup mandiri tanpa harus merusak hutan.

Pengecekan Ikan

Pengecekan Ikan

Pada gambar terlihat beberapa anggota Suku Anak Dalam sedang melakukan pengecekan ikan di dalam kolam terpal. Salah satu orang masuk ke dalam air sambil memegang jaring dan ember. Kegiatan ini bertujuan untuk memeriksa pertumbuhan ikan, melihat kondisi air, dan mengambil sebagian ikan jika sudah cukup besar. Pengecekan dilakukan secara rutin agar ikan tetap sehat dan kolam tetap bersih. Kegiatan ini menunjukkan upaya Suku Anak Dalam dalam membudidayakan ikan sebagai sumber pangan tambahan selain hasil dari sungai.

Kegiatan pengambilan Ikan

Kegiatan pengambilan Ikan

Gambar ini menunjukkan kegiatan pengambilan ikan di kolam yang dilakukan oleh anggota Suku Anak Dalam dengan didampingi oleh petugas pendamping. Beberapa warga berada di dalam air menarik jaring, sementara warga lain dan pendamping berdiri di pematang untuk mengarahkan dan membantu. Pendamping bertugas memberi arahan tentang cara panen yang benar, menghitung hasil, dan menjaga agar kegiatan berjalan tertib. Kehadiran pendamping menunjukkan bahwa kegiatan budidaya ini merupakan bagian dari program pemberdayaan untuk Suku Anak Dalam agar bisa mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan.

Makanan Pokok

Makanan Pokok
Makanan Pokok

Suku Anak Dalam memanfaatkan umbi gadung sebagai makanan pokok pengganti beras, terutama ketika sulit mendapatkan bahan makanan. Meskipun gadung mengandung racun, mereka memiliki cara tradisional untuk mengolahnya agar aman dikonsumsi. Gadung dikupas, diiris tipis, lalu direndam di air mengalir selama beberapa hari untuk menghilangkan racunnya. Setelah direndam, gadung dijemur hingga kering seperti pada gambar, kemudian ditumbuk dan dimasak menjadi bubur atau "nasi gadung" di atas tungku kayu. Proses ini menunjukkan kearifan lokal Suku Anak Dalam dalam memanfaatkan sumber daya alam di sekitarnya. Dengan cara perendaman yang cukup lama, racun pada gadung dapat hilang sehingga aman untuk dimakan dan bisa mengenyangkan.

Berkebun Kelapa Sawit

Berkebun Kelapa Sawit

Pada masa sekarang, sebagian Suku Anak Dalam di Jambi telah beralih ke kegiatan berkebun kelapa sawit sebagai mata pencaharian utama. Hal ini terlihat pada gambar seorang anggota Suku Anak Dalam yang sedang melakukan perawatan pada pohon kelapa sawit. Kegiatan ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dan menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan serta kebijakan pemerintah tentang permukiman tetap.
Berkebun sawit dilakukan di lahan yang telah dibuka, baik secara mandiri maupun melalui program pemberdayaan. Dalam bekerja, mereka melakukan perawatan seperti membersihkan pelepah, memupuk, dan memanen buah sawit. Hasil panen kemudian dijual ke pabrik atau pengepul untuk mendapatkan penghasilan.
Peralihan dari kehidupan meramu di hutan ke berkebun sawit menunjukkan bentuk adaptasi Suku Anak Dalam. Meskipun demikian, dalam bekerja mereka tetap menerapkan nilai gotong royong dan kebersamaan. Berkebun sawit kini menjadi salah satu cara Suku Anak Dalam untuk mendapatkan pendapatan yang lebih stabil dan mendukung kehidupan mereka di pemukiman.

Kesehatan

Status Kesehatan Masyarakat

Ringkasan kondisi kesehatan dan gizi komunitas Suku Anak Dalam berdasarkan data terkini.

🩺
0
Total Data Kesehatan
👶
0
Data Balita
🤰
0
Ibu Hamil
⚠️
0
Gizi Buruk/Stunting

Data kesehatan yang ditampilkan merupakan ringkasan statistik. Detail rekam medis dilindungi dan hanya dapat diakses oleh admin yang berwenang.

Kegiatan

Agenda & Dokumentasi Kegiatan

Dokumentasi foto dan catatan aktivitas pembinaan, sosial, kesehatan, serta kegiatan bersama warga SAD.

Umum 23 Aug 2026

Suku anak dalam mengikuti kegiatan Festival Batanghari 2024

Dokumentasi Suku anak dalam mengikuti kegiatan Festival Batanghari 2024
Dokumentasi Suku anak dalam mengikuti kegiatan Festival Batanghari 2024

Komunitas Suku Anak Dalam (SAD) ditampilkan di stan milik Pemerintah Daerah Bungo dan Sarolangun. Produk yang dipamerkan antara lain ikan asap, anyaman tikar, lukah, ambung, dan piring dari lidi sawit. Namun pada Festival Batanghari tahun ini, para kader SAD mendapatkan kesempatan istimewa dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi untuk turut berpartisipasi dalam Malam Budaya. Mereka menampilkan tarian khas komunitas, yaitu Tari Bedeti. Tari Bedeti merupakan ekspresi rasa syukur dan pengharapan kepada sang pencipta, yang biasanya ditampilkan dalam berbagai prosesi adat seperti ritual turun mandi bagi bayi yang baru lahir, upacara pernikahan, serta upacara adat lainnya. Musik pengiring tarian ini berasal dari senandung-senandung khas yang dilafalkan oleh para tetua adat yang sarat akan makna spritual.

Lihat Selengkapnya
Kunjungan & Bantuan 23 Aug 2026

kegiatan sosialisasi bina keluarga remaja dan penyuluhan program keluarga harapan

Dokumentasi kegiatan sosialisasi bina keluarga remaja dan penyuluhan program keluarga harapan
Dokumentasi kegiatan sosialisasi bina keluarga remaja dan penyuluhan program keluarga harapan

Kegiatan Bina Keluarga Remaja (BKR) yang membahas pentingnya peran keluarga dalam mendampingi remaja menghadapi berbagai tantangan perkembangan. Materi yang disampaikan menekankan pentingnya komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak, penguatan karakter, serta pendampingan yang tepat guna mendukung perkembangan sosial dan emosional remaja. Pada sesi Penyuluhan Program Keluarga Harapan (PKH), pendamping PKH memberikan informasi mengenai tujuan program, hak dan kewajiban keluarga penerima manfaat, serta pentingnya pemenuhan komponen kesehatan dan pendidikan sebagai syarat keberlanjutan bantuan. Dijelaskan bahwa data keaktifan anak dalam bersekolah dan kehadiran balita maupun ibu dalam kegiatan posyandu menjadi bagian dari proses pemantauan yang dilakukan secara berkala. Apabila anak tidak bersekolah atau putus sekolah, serta keluarga tidak aktif mengikuti kegiatan posyandu dan layanan kesehatan yang diwajibkan, maka status kepesertaan PKH dapat dievaluasi sesuai dengan hasil verifikasi dan validasi data yang dilakukan oleh pihak terkait. Oleh karena itu, keluarga penerima manfaat diharapkan dapat memenuhi kewajiban program dengan memastikan anak tetap mendapatkan pendidikan dan rutin mengikuti layanan kesehatan agar manfaat program dapat terus diterima sesuai ketentuan yang berlaku.

Lihat Selengkapnya
Kesehatan 23 Aug 2026

Sosialisasi Kesehatan Reproduksi

Dokumentasi Sosialisasi Kesehatan Reproduksi
Dokumentasi Sosialisasi Kesehatan Reproduksi

Dalam rangka mendukung kesejahteraan masyarakat komunitas SAD Dusun Dwi Karya Bakti, Pundi Sumatra melalui dukungan Program Estungkara telah mengadakan pelatihan penyadartahuan kesehatan reproduksi dan pelatihan menjahit pembalut kain di komunitas Suku Anak Dalam.

Lihat Selengkapnya

Sistem Informasi SAD

Platform resmi untuk dokumentasi dan pengelolaan data komunitas Suku Anak Dalam Rantau Keloyang.